Powered by Blogger.
RSS

Pages

This blog talk about everything I wanna share to you
Showing posts with label Tugas Akhir Individu. Show all posts
Showing posts with label Tugas Akhir Individu. Show all posts

BACKWARDS BENDING SUPPLY DI SEKTOR TENAGA KERJA

TEORI EKONOMI

BACKWARDS BENDING SUPPLY DI SEKTOR TENAGA KERJA



Disusun oleh : 
Putri Nadila Humairoh 
25212777
SMAK - 06


JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI 

UNIVERSITAS GUNADARMA


Masalah tenaga kerja adalah masalah yang sangat kompleks dan besar. Kompleks karena masalahnya mempengaruhi sekaligus dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berinteraksi dengan pola yang tidak selalu mudah dipahami. Besar karena menyangkut jutaan jiwa. Untuk menggambarkan masalah tenaga kerja dimasa yang akan dating tidaklah gampang karena disamping mendasarkan pada angka tenaga kerja di masa lampau, harus juga diketahui prospek produksi di masa mendatang.

Kondisi kerja yang baik, kualitas output yang tinggi, upah yang layak serta kualitas sumber daya manusia adalah persoalan yang selalu muncul dalam pembahasan tentang tenaga kerja disamping masalah hubungan industrial antara pekerja dengan dunia usaha.

Permintaan dalam konteks ekonomi didefinisikan sebagai jumlah maksimum suatu barang atau jasa yang dikehendaki seorang pembeli untuk dibelinya pada setiap kemungkinan harga dalam jangka waktu tertentu (Sudarsono, 1990). Dalam hubungannya dengan tenaga kerja, permintaan tenaga kerja adalah hubungan antara tingkat upah dan jumlah pekerja yang dikehendaki oleh pengusaha untuk dipekerjakan. Sehingga permintaan tenaga kerja dapat didefinisikan sebagai jumlah tenaga kerja yang
diperkerjakan seorang pengusaha pada setiap kemungKinan tingkat upah dalam jangka
waktu tertentu.

Miller & Meiners (1993), berpendapat bahwa permintaan tenaga kerja dipengaruhi oleh nilai marjinal produk (Value of Marginal Product, VMP). Nilai marjinal produk (VMP) merupakan perkalian antara Produk Fisik Marginal (Marginal Physical Product, MPP) dengan harga produk yang bersangkutan. Produk Fisik Marginal (Marginal Physical Product, MPP) adalah kenaikan total produk fisik yang bersumber dari penambahan satu unit input variabel (tenaga kerja).

Penawaran tenaga kerja adalah jumlah tenaga kerja yang dapat disediakan oleh pemilik tenaga kerja pada setiap kemungkinan upah dalam jangka waktu tertentu. Dalam teori klasik sumberdaya manusia (pekerja) merupakan individu yang bebas mengarnbil keputusan untuk bekerja atau tidak. Bahkan pekerja juga bebas untuk menetapkan jumlah jam kerja yang diinginkannya. Teori ini didasarkan pada teori tentang konsumen, dimana setiap individu bertujuan untuk memaksimumkan kepuasan dengan kendala yang dihadapinya.

Menurut G.S Becker (1976), Kepuasan individu bisa diperoleh melalui konsumsi atau menikmati waktu luang (leissure). Sedang kendala yang dihadapi individu adalah tingkat pendapatan dan waktu. Bekerja sebagai kontrofersi dari leisure menimbulkan penderitaan, sehingga orang hanya mau melakukan kalau memperoleh kompensasi dalam bentuk pendapatan, sehingga solusi dari permasalahan individu ini adalah jumlah jam kerja yang ingin ditawarkan pada tingkat upah dan harga yang diinginkan.

Disadari atau tidak tingkat kepuasan (atau tingkat ketidakpuasan) masing-masing pekerja atas suatu pekerjaan tidaklah sama, maka bisa difahami terjadinya kemungkinan perbedaan tingkat upah yang mencerminkan adanya perbedaan selera atau preferensi terhadap setiap jenis pekerjaan. Kemungkinan perbedaan tingkat upah yang mencerminkan adanya perbedaan selera atau preferensi terhadap setiap jenis pekerjaan inilah yang sering disebut sebagai teori penyamaan tingkat upah (theory of equalizing wage difference). Terkadang seseorang mau mengorbankan rasa tidak sukanya terhadap suatu pekerjaan demi memperoleh imbalan tinggi; atau sebaliknya ada orang yang mau menerima pekerjaan yang memberi upah rendah, padahal dia bisa memperoleh pekerjaan yang memberi upah lebih tinggi, semata-mata karena ia menvukai pekerjaan tersebut. Setiap pekerjaan memiliki penewaran dan permintaan tersendiri yang menentukan tingkat upah serta jumlah pekerja yang bisa di serap.

Isu umum dalam pembahasan mengenai pasar kerja selalu diasumsikan terdapatnya keseimbangan antara penawaran dan permintaan pekerja pada tingkat tertentu dengan jumlah pekerja tertentu pula. Namun adakalanya keseimbangan ini tidak selamanya menunjukkan tingkat upah yang terjadi di pasar kerja karena dalam pelaksanaannya terdapat campur tangan pemerintah atau karena ada yang menentukan tingkat upah minimum. Dalam jangka panjang, sebagian pengurangan permintaan pekerja bersumber dari berkurangnya jumlah perusahaan, dan sebagian lagi bersumber dari perubahan jumlah pekerja yang diserap masing-masing perusahaan.

Jumlah perusahaan bisa berkurang karena pemberlakuan tingkat upah minimum tidak bisa ditanggung oleh semua perusahaan. Hanya perusahaan yang sanggup menanggung upah minimum -atau yang berhasil menyiasati peraturan itu- yang akan bertahan. Sebagai contoh anggap saja sejumlah perusahaan tertentu membayar upah lebih tinggi dari pada Wm, khusus untuk pekerja unggul. Pemberlakuan tingkat upah minimum akan meningkatkan upah rata-rata, tapi tidak akan memacu kualitas pekerja secara keseluruhan. Akibatnya perusahaan yang menyerap pekerja kualitas lebih rendah, tapi harus membayar upah lebih tinggi, akan semakin sulit bersaing dengan perusahaanperusahaan yang sejak semula memberi upah tinggi tapi memang kualitas pekerjanya
unggul.

Besarnya pengaruh perubahan tingkat upah terhadap perubahan waktu luang (dan waktu kerja) sangat tergantung  pada besarnya efek pendapatan dan efek substitusi. Peningkatan tingkat upah akan mengakibatkan peningkatan jam kerja, apabila  efek substitusi lebih dominan dibandingkan dengan efek pendapatan. Sebaliknya, apabila efek pendapatan lebih dominan dibandingkan dengan efek substitusi, maka individu akan berupaya untuk mengurangi waktu kerja dan menikmati lebih banyak waktu luang. Dengan demikian apabila efek pendapatan lebih besar dibandingkan efek substitusi maka akan terjadi backward bending labor supply curve.

Selain upah, pendapatan juga berpengaruh negatif terhadap jumlah jam kerja; artinya apabila pendapatan total meningkat akan diikuti dengan penurunan dalam jumlah jam kerja. Di negara-negara maju dengan pendapatan per kapita penduduk yang relatif sudah tinggi, efek pendapatan dari peningkatan upah umumnya lebih dominan dibandingkan  dengan efek substitusi, sehingga besarnya efek total (total effect) dari peningkatan tingkat upah yang merupakan  selisih antara efek pendapatan dan efek substitusi di negara-negara maju akan lebih kecil dari nol.

Pada tingkat pendapatan yang relatif tinggi individu akan merasa bahwa kebutuhan hidupnya akan barang dan jasa sudah tercukupi, sehingga mereka mengurangi waktu kerja dan menambah waktu luang untuk mempertinggi kesejahteraannya. Sebaliknya, di negara-negara berkembang dimana pendapatan masyarakat masih tergolong rendah, efek substitusi akan lebih dominan dibandingkan dengan efek pendapatan. Dengan demikian peningkatan tingkat upah akan berpengaruh positif terhadap waktu kerja dan negatif terhadap waktu luang.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

FLOW AND LEAKAGE DALAM ALIRAN EKONOMI

TEORI EKONOMI

FLOW AND LEAKAGE DALAM ALIRAN EKONOMI



Disusun oleh : 
Putri Nadila Humairoh 
25212777
SMAK - 06


JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI 

UNIVERSITAS GUNADARMA


Kebocoran ekonomi jenis ini merupakan salah satu kebocoran ekonomi yang sifatnya nyata dan terasa langsung. Kebocoran ekonomi import adalah suatu keadaan dimana uang dari suatu destinasi, misalkan Pulau Bali telah menjadi surga bagi para pebisnis, jutaan dollar dikeluarkan oleh para investor asing untuk membangun hotel dan resort mewah serta Pemerintah Kabupaten Raja Ampat memberikan ruang sebesar-besarnya kepada investor asing untuk berinvestasi ,yang berarti tidak berdampak kepada kegiatan ekonomi di dalam Negara asal uang itu berada yang dikarenakan uang tersebut dilakukan untuk kegiatan transaksi import barang dari luar negeri.

Kegiatan ini dapat dikatakan sebagai kebocoran karena uang yang digunakan untuk melakukan kegiatan transaksi import tidak akan berpengaruh terhadap perekonomian Negara yang melakukan kegiatan import itu sendiri. Dalam artian uang yang telah digunakan sudah berhenti berputar di Negara tersebut.

Contoh kasus lain dari kebocoran tipe ini adalah penyetandaran kualitas dalam ukuran internasional terhadap barang-barang yang digunakan pada suatu tempat wisata, terutama pada hotel-hotel berbintang dan restoran-restoran yang menggunakan standar internasional. Dengan adanya penyamarataan kualitas suatu barang atau jasa secara internasional maka membuat kemungkinan barang-barang produksi lokal yang digunakan oleh hotel-hotel berbintang tidak dapat bersaing kualitasnya  dengan produk luar. Oleh karena itu dengan terpaksa atau tidak pihak hotel atau restoran yang kebutuhannya tidak terpenuhi oleh produkan lokal mau tidak mau akan melakukan kegiatan pengimporan barang atau jasa dengan baiya  dengan biaya yang digunakan  diambil dari pendapatan hotel atau restoran tersebut.

Kebocoran eksport seringkali terjadi pada pembangunan destinasi wisata khususnya pada Negara miskin atau berkembang yang cemderung memerlukan modal dan investasi terjadi ketika terjadinya permintaan terhadap peralatan-peralatan yang berstandar internasional yang digunakan dalam industri yang besar untuk membangun infrastruktur dan fasilitas wisata lainnya. Kondisi seperti ini, akan mengundang masuknya penanam modal asing yang memiliki modal yang kuat untuk membangun resort atau hotel serta fasilitas dan infrastruktur  pariwisata, sebagai imbalannya, keuntungan usaha dan investasi mereka akan mendorong uang mereka kembali ke Negara mereka tanpa bisa dihalangi, hal inilah yang disebut dengan “leakage” kebocoran eksport.

Invisible Leakage atau kebocoran ekonomi yang tidak secara langsung oleh konsumen ataupun produsen suatu produk. Pada kebocoran jenis ini biasanya uang yang keluar dari suatu daerah asal dan tidak lagi mempengaruhi kegiatan ekonomi di daerah tersebut tidak terasa secara langsung.

Pada kebocoran ekonomi yang tidak terlihat dapat terjadi pada perhitungan pendapatan asli daerah dari sektor  pajak. Invisible leakage  pada pendapatan asli daerah dapat dilihat pada studi kasus pembayaran pajak suatu perusahaan yang melakukan pembayaran kepada pemerintah pusat. Sehingga uang yang seharusnya mengalir dan bergerak di dalam lingkup daerah tidak dapat berpengaruh terhadap daerah tersebut.

Invisible leakage juga dapat terjadi kepada konsumen suatu barang atau benda yang dibeli dan harga pajak per barang tersebut ditanggungkan oleh pembeli atau konsumen dari barang tersebut.
Pada tiap kebocoran ekonomi yang terjadi di suatu daerah pastilah akan berpengaruh terhadap kondisi perekonomian bahkan juga berpengaruh terhadap kondisi sosial daerah tersebut. Contoh-contoh dari efek yang muncul karena terjadinya kebocoran dalam bidang  ekonomi di dalam suatu daerah antara lain adanya kemungkinan untuk terjadi pemiskinan terhadap penduduk sekitar daerah wisata.  Pemilik asli dari suatu destinasi ataupun obyek wisata adalah penduduk asli dari  destinasi atau obyek wisata itu berada. Seharusnya apabila suatu obyek wisata berkembang disuatu daerah maka warga sekitar juga seharusnya memiliki tingkat kesejahteraan yang tinggi, namun pada kenyataannya masih banyak warga asli yang tinggal disekitar tempat obyek wisata masih memiliki  kondisi ekonomi yang memprihatinkan. Hal ini bisa dipastikan terjadi karena adanya kebocoran daaarrri segi ekonomi pada daerah tersebut. Apabila kebocoran yang terjadi pada  suatu daerah wisata sangat besar maka efek yang berpengaruh kepada ranah sosialnya akan sangat dapat terasa. Seperti contohnya adalah akan munculnya kesenjangan sosial antar warga dan cenderung dapat menyebabkan konflik antar warga. 


Sumber :

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pertumbuhan Pendapatan Nasional

TEORI EKONOMI

PERTUMBUHAN PENDAPATAN NASIONAL



Disusun oleh : 
Putri Nadila Humairoh 
25212777
SMAK - 06


JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI 

UNIVERSITAS GUNADARMA

Sebelum Perang Dunia II ayunan Pendapatan Nasional atau konjungtur ini sering terjadi terutama di negara-negara industri dengan sistem kapitalis dan sistem pasar. Ini pula rupanya yang membuat sistem sosialis/komunis menarik hati pada waktu itu dan yang sebenarnya dijadikan suatu alasan oleh Karl Marx bagi keruntuhan sistem kapitalis. Sesudah Perang Dunia II konjungtur ini tidak seliar seperti sebelumnya, berkat campur tangan pemerintah dalam kehidupan perekonomian.

Ilmu mengenai ayunan Pendapatan Nasional atau Konjungtur atau Business Cycle ini diajarkan di perguruan-perguruan tinggi di Indonesia pada tahun-tahun 50-an. Pada tahun 60-an dihapuskan dari kurikulum dengan alasan ilmu ini adalah ilmu yang liberalistis. Apalagi dengan berkurangnya ayunan setelah Perang Dunia II, dianggap tidak bergunalah untuk mempelajarinya. Namun sekarang nampaknya akan dihidupkan kembali, karena meskipun dalam skala yang lebih kecil ayunan ini tetap ada. Konjungtur (business cycle) sebagai salah satu cabang Ekonomika mempelajari sifat hakekat ayunan kegiatan ekonomi, sebab-sebab terjadinya ayunan, dan resep-resep untuk mengatasinya.


 GELOMBANG KONJUNGTUR (BUSINESS LIFE CYCLE)

Dilihat dari segi lamanya satu siklus ayunan, naik turunnya kegiatan ekonomi setiap masyarakat dibagi ke dalam: ayunan musiman (seasonal), ayunan jangka panjang (cyclical) dan ayunan jangka amat panjang (trend). Istilah ini tidak begitu memadai sehingga lebih enak apabila kita gunakan istilah asing. Ayunan musiman adalah ayunan kurang dari satu tahun karena perubahan musim. Menghadapi lebaran, Natal, tahun baru, dan hari-hari raya lain, volume penjualan biasanya naik, kegiatan ekonomi agak ramai. Tapi kenaikan ini bersifat sementara, tidak berumur panjang. Lewat hari-hari raya itu kegiatan kembali lagi seperti sedia kala. Ayunan semacam ini tidak menjadi perhatian ahli-ahli ekonomi. Ayunan siklus jangka panjang adalah ayunan sekitar 8 - 1 0 tahun. Inilah yang terutama diperhatikan para ahli. Di antara atau lebih tepat lagi di dalam ayunan jangka panjang ini terdapat ayunan-ayunan kecil dan pendek, umumnya sekitar 3 - 4 tahun. Biasanya ayunan seperti ini tidak terlalu parah akibatnya. Akhirnya adalah perkembangan kegiatan ekonomi yang amat panjang, sampai puluhan tahun, namanya trend. Dalam statistika telah diajari bagaimana cara menghilangkan ayunan musiman untuk memperoleh gambaran ayunan jangka panjang, 8 - 10 tahun, dan bagaimana menghilangkan ayunan jangka panjang untuk memperoleh gambaran trend. Sebenarnya memperoleh gambaran trend itu mudah, tanpa ilmu statistika pun dapat kita buat.

Untuk mendapat gambaran ayunan musiman, jangka panjang, dan trend ini harus diperoleh data "time series" yaitu data statistik selama puluhan tahun mengenai Produk Nasional, pengerjaan (employment), harga-harga, pengangguran, persediaan barang-barang jadi, setengah jadi, dan dalam proses produksi, investasi, penerimaan pajak, expor dan impor. Meskipun setiap siklus kegiatan ekonomi itu tidak sama betul, tapi ada persamaan-persamaannya sedemikian rupa hingga dapat ditarik berbagai kesimpulan sebagai pelajaran untuk masa yang akan datang. Siklus naik turunnya kegiatan ekonomi ini sudah dapat dijinakkan tapi belum dapat dikuasai benar, dan masih terdengar adanya resessi atau pengendoran kegiatan ekonomi. Kita sering mendengar atau membaca bahwa krisis moneter di dunia, pengendoran laju ekspor, dan penurunan harga barang ekspor Indonesia disebabkan karena adanya resessi di Jepang, Eropa Barat, dan Amerika Serikat.

Dalam setiap ayunan kegiatan ekonomi sebelum Perang Dunia II ada empat tahap kegiatan yang menciptakan ayunan ini. Lihat kembali gambar 15. Kalau kita ambil satu siklus lengkap dari setiap ayunan, maka siklus itu akan terlihat seperti pada gambar 16.

Kita mulai dari keadaan ekonomi yang sedang ada pada puncak kegiatannya. Dalam keadaan seperti ini hampir semua orang yang mau bekerja benar-benar bekerja; mesin-mesin dan pabrik-pabrik terpakai penuh, penjualan berjalan cepat, keuntungan tinggi, pajak masuk ke kas negara dengan lancar, investasi tinggi dan sebagainya. Keadaan kegiatan ini dinamai puncak (peak) kegiatan ekonomi. Karena sesuatu sebab yang akan diterangkan pada bagian teori, sedikit-sedikit atau tiba-tiba penjualan mengendor. Mulailah peristiwa berantai terjadi berturut-turut. Persediaan barang jadi, setengah jadi, dan bahan mentah mulai bertumpuk. Pengusaha mulai mengendorkan proses produksinya. Pesanan bahan mentah mulai dikurangi, buruh-buruh mulai dikeluarkan, terutama buruh lepas dan harian.
TEORI KONJUNGTUR

Apa sebabnya ayunan pendapatan dan kegiatan ekonomi ini terjadi banyak sarjana yang berusaha menerangkannya. Lahirlah berbagai teori konjungtur yang kadang-kadang terdengar ganjil. Mungkin berbagai teori itu benar seluruhnya atau sebagian, mungkin pula tidak. Tidak ada dua siklus yang sama benar dalam segala aspeknya, karena itu mungkin pula suatu teori itu hanya benar atau berlaku pada satu siklus tapi tidak untuk siklus lain. Sementara orang-orang masih sibuk menerangkan apa hakekat konjungtur, ayunan kegiatan ekonomi itu sendiri sudah agak mereda. Sesudah Perang Dunia II ayunannya sudah tidak sebuas dulu lagi; namun resessi kecil dan pendek masih terjadi. Karena itu ada baiknya kita mengenalnya meskipun tidak mendalam. Secara garis besarnya berbagai teori itu dapat digolongkan ke dalam teori-teori extern dan intern.

Teori-teori extern mencari sebab-sebab ayunan kegiatan ekonomi ini di luar sistem ekonomi. Keseluruhan teori ini mengemukakan sebab-sebab konjungtur terletak pada noda matahari (sunspots) atau astrologi, peperangan, revolusi, kegoncangan politik, penemuan tambang emas, pertumbuhan penduduk, perpindahan penduduk, penemuan daerah baru dan sumber baru, penemuan-penemuan ilmiah dan innovasi-innovasi. Dikatakan bah-wa noda matahari akan mempengaruhi iklim dan panen, baik atau buruk yang kemudian mempengaruhi produksi, perdagangan dan investasi. Banyak teori extern ini yang dicampakkan orang karena tidak masuk akal.

Teori-teori intern mencari sebab-sebab ayunan ini di dalam sistem ekonomi sendiri, dan menganggap bahwa setiap ekspansi akan melahirkan resessi, dan tiap resessi akan melahirkan, dan tiap resessi akan melahirkan kemakmuran.

Dalam menerangkan konjungtur para ahli sangat memperhatikan ayunan investasi. Sebab ayunan ini mungkin terletak di luar sistem ekonomi, yaitu misalnya dalam innovasi teknologi, penduduk, atau gairah para pengusaha. Sebab dari luar ini akan menyusup ke dalam sistem ekonomi, mulai bekerja dalam sistem ekonomi, menjadi sebab yang intern, sekurang-kurangnya yang menjadikan peristiwa ayunan itu kumulatif. Harapan pengusaha saja akan mengakibatkan mereka membuat order baru meskipun tidak ada kenaikan permintaan. Jadi sebab yang extern dapat bercampur dengan sebab yang intern untuk menciptakan siklus kegiatan ekonomi.

RELEVANSINYA UNTUK INDONESIA

Sesudah Perang Dunia II ayunan kegiatan ekonomi ini sudah tidak seliar seperti sebelum saat itu. Para sarjana sedikit banyak sudah memahami sifat hakekat ayunan. Dengan campur tangan pemerintah lewat politik fiskal dan moneter ayunan ini dapat diijinkan. Namun demikian ayunan kecil-kecilan masih terjadi dan pengaruhnya masih terasa dalam ekspor dan hasil ekspor negara-negara berkembang.

Kalau kita perhatikan perkembangan Pendapatan Nasional Indonesia semenjak kemerdekaan hingga sekarang, ayunan ini tidak begitu kelihatan. Berarti di Indonesia ayunan itu hampir tidak ada. Tapi seperti dikemukakan di muka volume dan hasil ekspor Indonesia amat terpengaruh konjungtur di luar negeri. Penurunan harga karet 1/2 sen dollar saja dapat mengurangi penghasilan devisa jutaan dollar. Padahal ekspor Indonesia di luar minyak bumi berupa bahan mentah bagi industri di luar negeri. Stok bahan mentah amat peka terhadap perubahan permintaan.

Karena itu meskipun perekonomian Indonesia tidak mengalami goncangan-goncangan karena sebab di dalam negeri sarjana-sarjana Indonesia masih perlu mempelajarinya walaupun tidak mendalam. Kita perlu menyadari apa akibatnya kalau terjadi ressessi atau perluasan di luar negeri atas ekspor bahan mentah, pendapatan, pengerjaan, dan pengaruh sampingan bagi petani, pedagang, dan pemerintah. Setiap perkembangan di negara lain akan mempunyai pengaruh berantai ke berbagai kegiatan di dalam negeri Indonesia. Untuk itu pemerintah dan masyarakat dapat bersiap-siap menghadapinya. Seringkali sekarang ini eksportir tidak mengetahui apa sebabnya permintaan atas sesuatu komoditi itu mengendor. Sebagai penghibur hati hanya sekedar diterka saja misalnya karena pengaruh musim (winter, summer).


Sumber :

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Budget Keluarga untuk Mengoptimalkan Utilitas

TEORI EKONOMI

BUDGET KELUARGA UNTUK MENGOPTIMALKAN UTILITAS 


Disusun oleh : 
Putri Nadila Humairoh 
25212777
SMAK - 06


JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI 

UNIVERSITAS GUNADARMA

Uang merupakan suatu sumberdaya dan sekaligus merupaka alat pengukur dari sumberdaya. Besarnya uang yang dimiliki oleh seseorang atau keluarga menunjukkan bearapa banyak umberdaya yang dimilikinya. Sumberdaya yang dimiliki suatu keluarga relative terbatas, oleh karena harus digunakan secara optimal dengan melakukan pengelolaan yang baik agar seluruh kebutuhan dapat terpenuhi dengan baik (Guharja et al. 1992).

Menurut Senduk (2000), perencanaann keuangan (budgeting) merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan-tujuan keuangan baik jangaka pendek maupun jangka panjang dengan merencanakan keuangan yang dimiliki. Untuk mencapai tujuan  tersebut bias dilakukan dengan menabung , melakukan investasi, atau mengukur sumberdaya keuangan yang dimiliki saat ini.

Dalam kehidupan keluarga tekanan ekonomi sangat mempengaruhi kondisi keuangan keluarga. Tekanan ekonomi keluarga meliputi kesulitan ekonomi subjektif dan kesulitan ekonomi objektif keluarga. Karakteristik kesulitan ekonomi keluarga objektif meliputi pendapatan per kapita, rasio utang dengan asset, status pekerjaan, kehilangan pekerjaan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan negative antara tekanan ekonomi dengan kualitas perkawinan , pengasuh anak, kecerdasan emosi, dan prestasi belajar anak. Semakin tinggi tekanan ekonomi keluarga, semakin rendah kualitas perkawinan, pengasuh anak, kecerdasan ekonomi anak, dan prestasi anak.  

Dalam pembahasan ini akan dibahas bagaimana cara melakukan budgeting secara efektik dan efisien namun menghasilkan kepuasan yang optimal atau nilai guna. Nilai guna (utility) adalah kepuasan atau kenikmatan yang diperoleh seseorang dari mengkonsumsi barang-barang. Jika kepuasan itu makin tinggi, maka makin tinggi pula nilai gunanya (utility-nya).

Dalam keadaan dimana harga-harga berbagai macam barang adalah berbeda, syarat yang harus dipenuhi untuk memberikan nilai guna yang maksimum adalah : setiap rumah yang dikeluarkan untuk membeli unit tambahan berbagai jenis barang akan memberikan nilai guna marginal yang sama besarnya.


Hipotesis :
Seseorang akan memaksimumkan nilai guna dari barang-barang yang dikonsumsinya apabila perbandingan nilai guna marginal berbagai barang tersebut adalah sama dengan perbandingan harga-harga barang tersebut.
Seseorang akan memaksimumkan nilai guna dari barang-barang yang dikonsumsinya apabila nilai guna marginal untuk setiap rupiah yang dikeluarkan adalah sama untuk setiap barang yang dikonsumsikan.

Surplus konsumen, yaitu kelebihan atau perbedaan antara kepuasan total atau total utility (yang dinilai dengan uang) yang dinikmati konsumen dari mengkonsumsikan sejumlah barang tertentu dengan pengorbanan totalnya (yang dinilai dengan uang) untuk memperoleh atau mengkonsumsikan jumlah barang tersebut.

Kesediaan Membayar (willingness to pay)
Kesediaan Membayar adalah jumlah maksimum yang mau dibayar oleh konsumen untuk memperoleh suatu barang. Sedangkan surplus konsumen (consumer surplus) adalah selisih antara kesediaan konsumen membayar dengan nilai yang sesungguhnya ia bayarkan.

Sebagai contoh, umpamakan saja anda memiliki album rekaman pertama Elvis Presley yang sekarang sudah amat langka. Karena anda bukan penggemar berat Elvis, maka anda berniat menjualnya. Untuk memperoleh harga tertinggi, maka ia mengadakan lelang. Ada empat orang penggemar Elvis, mereka adalah John, Paul, Ringo dan George. Mereka mau membeli namun dengan dibatasi oleh jumlah maksimum yang mau mereka bayarkan untuk membelinya. Tabel 1 memperlihatkan harga maksimum yang mau mereka bayarkan. Batas maksimal yang mau dibayarkan oleh masing-masing pembeli itulah yang disebut dengan Kesediaan Membayar.

Setelah dilakukan tawar menawar, maka album tersebut terjual pada John yang mau membayar $100, namun kenyataannya ia hanya membayar $80 karena penawar yang lain tidak mau membayar lebih dari $80. John memperoleh keuntungan ekstra sebesar $20, dan keuntungan inilah yang disebut sebagai surplus konsumen. Sedangkan tiga penawar yang lain tidak mendapat surplus konsumen karena mereka tidak mendapatkan album dan juga tidak membayar apa-apa.

Apa yang Diukur oleh Surplus Konsumen?
Tujuan mempelajari konsep surplus konsumen ini adalah untuk membuat penilaian normatif tentang diinginkan atau tidaknya hasil yang dibuahkan oleh mekanisme pasar. Surplus konsumen pada dasarnya mengukur manfaat atau keuntungan yang diterima pembeli dari suatu barang, berdasarkan penilaian konsumen itu sendiri. Kunci untuk tetap menyadari pentingnya surplus konsumen adalah dengan menghormati preferensi (pilihan atau kecenderungan perilaku) pembeli. Namun disebagian besar pasar kita dapat menyimpulkan dengan aman bahwa surplus konsumen merupakan cerminan kesejahteraan ekonomis para konsumen. Para konsumen biasanya mengasumsikan bahwa para pembeli adalah para pembuat keputusan yang rasional sehingga preferensi mereka harus dihormati.

SURPLUS PRODUSEN
Misalnya, ketika anda ingin mengecat rumah anda, maka anda akan mencari tukang cat, anda mendapati empat tukang yang bersedia yakni Mary, Louise,Georgia, dan Paman anda sendiri. Agar mendapat harga termurah, maka anda mengadakan lelang.


Pada prinsipnya, keempat tukang cat itu mau menjual jasanya asalkan harga yang mereka terima lebih besar daripada biaya pengecatan. Di sini istilah Biaya (cost) adalah nilai segala sesuatu yang harus dikorbankan penjual dalam memproduksi suatu barang. Di dalamnya harus tercakup semua pengeluaran (untuk membeli cat, kuas, sewa tangga, dll), serta nilai waktu yang mereka habiskan untuk mengecat rumah anda. Tabel berikut menunjukkan biaya yang mereka ambil.


Lelang dimulai, karena keempat tukang cat itu sama-sama menginginkan pekerjaan, mereka bersaing menurunkan harga hingga batas minimal, yakni mendekati atau sama dengan kesediaan menjualnya. Begitu Paman anda menawarkan ongkos hanya sebesar $600 atau sedikit lebih rendah, maka ia pun langsung mengungguli tiga tukang cat lainnya karena ia sendiri yang mau mengecat rumah anda dengan ongkos di bawah $600.

Keuntungan yang diterima paman anda adalah, selain bisnisnya berjalan lancar, si paman mendapat keuntungan tambahan dengan menerima bayaran sedikit dibawah $600, karena ia mampu mengerjakannya dengan ongkos $500. dalam kasus ini paman anda dikatakan memperoleh surplus produsen, yaitu jumlah pembayaran yang diterima penjual dikurangi biaya yang dipikulnya.

EFISIENSI PASAR
Surplus konsumen dan surplus produsen adalah perangkat dasar yang digunakan para ekonom untuk mengukur kesejahteraan ekonomis para penjual dan pembeli di sebuah pasar.

Pengatur Ekonomi yang Bijak
Untuk mengevaluasi hasil-hasil pasar, kita umpamakan seorang pejabat pemerintah yang serba bisa. Ia adalah seorang diktaktor yang serba tahu, sangat berkuasa, dan juga memiliki niat baik dalam mengatur perekonomian. Ia ingin memaksimalkan kesejahteraan ekonomi bagi segenap warga masyarakatnya. Apakah ia akan membiarkan para penjual dan pembeli berusaha sendiri mencapai kondisi ekuilibrium secara alamiah? Atau, haruskah ia melakukan sesuatu untuk mempengaruhi pasar?
Jawabannya, si pejabat pertama-tama harus mengetahui cara pengukuran kesejahteraan ekonomis bagi masyarakatnya. Salah satu caranya adalah dengan menghitung surplus produsen dan surplus konsumen yang disebut dengan surplus total (total surplus). Jika kita rumuskan, maka total surplus adalah sebagai berikut :
Total surplus = surplus konsumen + surplus produsen(nilai barang bagi pembeli – jumlah yang dibayar pembeli) + (jumlah yang diterima penjual – biaya produksi yang dikeluarkan)

Jumlah yang dibayarkan pembeli sesungguhnya sama dengan jumlah yang diterima penjual, sehingga rumus total surplus dapat disederhanakan menjadi :
Total surplus  = nilai barang bagi pembeli – biaya produksi

Jika suatu alokasi sumber daya dapat memaksimalkan surplus total, maka alokasi itu dikatakan mempunyai efisiensi (efficiency). Selain efisiensi, pejabat pemerintah yang berkuasa itu juga harus memperhatikan kesemarataan (equality), yakni aspek keadilan atau pemerataan distribusi kesejahteraan diantara segenap pembeli dan penjual.



Sumber :

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Peran Konsep 4 Pelaku Ekonomi dalam Pengembangan SDA

TEORI EKONOMI

PERAN KONSEP 4 PELAKU EKONOMI DALAM PENGEMBANGAN SUMBER DAYA ALAM 





Disusun oleh : 
Putri Nadila Humairoh 
25212777
SMAK - 06


JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI 

UNIVERSITAS GUNADARMA

Pada dasarnya pembagian pelaku ekonomi hanya 2, yaitu Konsumen dan Produsen. Konsumen adalah para pemakai barang dan jasa yang dihasilkan oleh para kaum produsen. Sedangkan, produsen adalah mereka yang didalam suatu kegiatan ekonomi berfungsi sbg pihak yang mengorganisasikan input dan menyediakan barang dan jasa, untuk nantinya dinikmati oleh kaum konsumen. Kedua pihak ini adalah dua pihak yang senantiasa harus ada didalam setiap perekonomian, tidak mungkin yang satu dengan tiadanya yang lain. Bayangkan suatu keadaan dimana semua anggota masyarakat menjadi produsen, dan tidak seorangpun menjadi konsumen. Pasti kegiatan Ekonomi tidak akan berjalan.

Lalu diimbangi dengan peran pelaku ekonomi yaitu Pemerintah dan Swasta. Peran Pemerintah sebagai pelaku kegiatan ekonomi berarti pemerintah melakukan kegiatan konsumsi, produksi, dan distribusi. Kegiatan produksi Pemerintah dalam menjalankan perannya sebagai pelaku ekonomi, mendirikan perusahaan negara atau sering dikenal dengan sebutan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sesuai dengan UU No. 19 Tahun 2003, BUMN adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. BUMN didirikan pemerintah untuk mengelola cabang-cabang produksi dan sumber kekayaan alam yang strategis dan menyangkut hajat hidup orang banyak. Misalnya PT Dirgantara Indonesia, PT Perusahaan Listrik Negara, PT Kereta Api Indonesia (PT KAI), PT Pos Indonesia, dan lain sebagainya. Perusahaan-perusahaan tersebut didirikan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, serta untuk mengendalikan sektor-sektor yang strategis dan yang kurang menguntungkan.

BUMS adalah salah satu kekuatan ekonomi di Indonesia. BUMS merupakan badan usaha yang didirikan dan dimiliki oleh pihak swasta. Tujuan BUMS adalah untuk memperoleh laba sebesar-besarnya. BUMS didirikan dalam rangka ikut mengelola sumber daya alam Indonesia, namun dalam pelaksanaannya tidak boleh bertentangan dengan peraturan pemerintah dan UUD 1945. BUMS dalam melakukan perannya mengandalkan kekuatan pemilikan modal. Perkembangan usaha BUMS terus didorong pemerintah dengan kebijakan.

Menurut Pratarma Rahaja, cakupan kerja sama ekonomi internasional luas sekali. Ada yang langsung memberikan manfaat dan ada yang baru memberikan manfaat di jangka panjang. Kerjasama yang langsung memberikan manfaat diantaranya adalah perdagangan internasional, sebab negara-negara yang melakukannya akan segera mengalami peningkatan penggunaan barang jasa maupun faktor-faktor produksi. Sedangkan yang memberikan manfaat di jangka panjang misalnya adalah penanaman modal langsung. Menurut data Perdagangan Internasional yang bersumber dari World Bank Development Report, 1997 menunjukkan bahwa selama 1980-1995 pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 6,4 % per tahun, tetapi pertumbuhan impor mencapai 9,2% per tahun. Hal ini menunjukkan ketergantungan pelaku ekonomi luar negeri sangat berpengaruh. 

Indonesia, adalah negara yang secara geografis, berada dalam posisi silang. Tersedianya bermacam-macam SDA ditambah dengan jumlah SDM yang besar, telah menempatkan Indonesia pada posisi yang memiliki potensi keunggulan komparatif jika dibandingkan dengan beberapa negara tetangga.
Dimuat dalam pasal 33 UUD 1945 benar-benar esensial sifatnya dengan jelas telah menyatakan bahwa pengembangan SDA semata-mata hanya dimaksudkan untuk memenuhi kemakmuran rakyat banyak. Untuk itu dalam proses transformasinya, SDA harus dapat dikelola secara maksimal, lestari dan berdaya saing serta diarahkan untuk memenuhi kepentingan tujuan rakyat di masa depan. Kondisi itu hanya akan dapat dicapai jika proses transformasi tersebut terwujud dalam bentuk suatu proses yang berkelanjutan dan berulang secara konsisten.




Proses tersebut diawali dengan tahap kegiatan eksplorasi dan pengolahan teknis atas SDA, di mana digunakan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dengan harapan dapat dihasilkan berbagai masukan yang dapat meningkatkan nilai tambah atas produk yang dihasilkan. Tahap ini dikenali sebagai tahap awal kegiatan ekonomi, yang kemudian diakhiri dengan pelaksanaan proses distribusi dan pemasaran hasil produknya. Siklus kegiatan proses transformasi tersebut diakhiri dengan tahap akhir berupa kegiatan ekologis yang dimaksudkan untuk dapat menjaga dan mempertahankan kelestarian SDA yang diolah.

Wawasan mengandung pengertian mengenai perwujudan kepulauan Nusantara sebagai satu kesatuan politik, kesatuan sosial-budaya, kesatuan ekonomi dan kesatuan pertahananan keamanan. Dalam hubungan itulah para pelaku ekonomi sebagai pelaksana pengembangan SDA (di mana SDA merupakan salah satu aspek alamiah dalam Sistem Kehidupan Nasional), mempunyai hubungan keterkaitan yang erat dengan perwujudan kesatuan kepulauan Nusantara yang dimaksudkan sebagai suatu konsepsi dalam pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan di dalam kehidupan Nasional. Maka dalam pencapaian untuk mengembangkan Sumber Daya Alam di Indonesia faktor 4 pelaku ekonomi yaitu konsumen, produsen, pemerintah (negeri dan swasta) dan luar negeri dipaksakan untuk saling berinteraksi.



 Sumber :

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Memaksimumkan Laba dan Kepuasan Konsep Dua Sektor

TEORI EKONOMI 

MEMAKSIMUMKAN LABA & KEPUASAN  KONSEP DUA SEKTOR 



Disusun oleh : 
Putri Nadila Humairoh 
25212777
SMAK - 06


JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI 
UNIVERSITAS GUNADARMA


Jika kalian amati masyarakat dengan seksama, maka paling tidak terdapat tiga macam kegiatan ekonomi yang utama yakni menghasilkan atau memproduksi (kegiatan produksi), menyalurkan (distribusi), dan menggunakan atau memakai (konsumsi). Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan oleh pelaku atau subjek ekonomi.

Secara garis besar para pelaku kegiatan ekonomi dapat digolongkan menjadi empat sektor atau kelompok besar yakni rumah tangga, para produsen, pemerintah, dan luar negeri. Dalam pembahasan ini, akan membahas system perekonomian pasar yang hanya terdapat dua pelaku ekonomi, yaitu rumah tangga (households) dan perusahaan (firms) untuk memaksimumkan laba.

Masyarakat sebagai rumah tangga membelnjakan uangnya untuk mendapatkan barangdan jasa. Barang dan jasa tersebut dibeli untuk kepentingan konsumsi dan investasi. Konsumsi merupakan pemanfaatan barang atau jasa untuk kebutuhan sekarang (current period), sedangkan investasi untuk kebutuhan jangka panjang.

Untuk itu rumah tangga berusaha memaksimumkan kebahagiannya atau kepuasaannya, dengan membelanjakan uang yang tersedia untik membeli sekelompok barang atau jasa. Kepuasan konsumen diukur dari seberapa banyak permasalahan yang dihadapinya terpecahkan. Perusahn memanfaatkan dan mengombinasikan sumber daya berupa factor produksi secara efisien untuk memproduksi barang dan jasa dengan tujuan memperoleh dan memaksimalkan laba. Interai antara rumah tangga dan perusahaan dapat diilustrasikan dalam gambar berikut : 



Interaksi tersebut berjalan terus-menerus sehingga membentuk suatu system.dalam suatu system, interkasi antara rumah tanggaa dan perusahaan sebagai unsur dari system berlangsung terus, sepanjang seluruh pihak tersebut memperoleh keseimbangan. Keseimbangan rumah tangga berupa kepuasan maksimum dan keseimbangan perusahaan berupa laba maksimum.

Untuk dapat memenuhi kebutuhannya, rumah tangga harus mengeluarkan uang yang dapat diperoleh dengan menjual tenaganya atau menyewakan harta yang telah dimilikinya seperti bangunan, mesin, tanah, atau sumber daya alam. Faktor produksi tersebut diorganisasikan dan diproses oleh perusahaan sehingga menghasilkan output berupa barang dan jasa. Dengan  demikian terdapat arus barang dan arus uang.

Menurut Sunarto dan Bambang Setiono, kepuasan maksimum rumah tangga diperoleh , jika setiap rupiah dari uang yang dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan berbagai barang atau jasa memberikan tambahan  kepuasaan yang sama. Jadi rupiah terkahir yang dibelanjakan untuk barang A memberikan kepuasan yang sama dengan rupiah terkahir yang dibelanjakan untuk barang B, C dan sebagainya. Hal ini sesuai dengan pengertian ilmu ekonomi, dimana manusia akan berusaha memanfaatkan sumber daya yang terbatas untuk memenuhi kebutuhannya yang tidak terbatas. Untuk barang dengan kualitas sama, konsumen akan memilih barang yang harganya lebih murah, agar dari jumlah uang yang sama diperoleh barang yang lebih banyak atau dapat membeli barang lain yang juga diperlukan sehingga diperoleh kepuasan yang lebih besar.

Laba maksimum perusahaan dicapai pada posisi optimum, yaitu jika tambahan pendapatan (marginal revenue = MR) dalam bentuk rupiah masih dapat menutup biaya produksi tambahan (marginal cost =  MC), sebagai akibat dari tambahan produksi (marginal physical product). Perusahaan hanya akan memproduksi barang atau jasa, menambah tenaga kerja, dan memperluas usahanya jika tambahan usahanya itu diperoleh dari keutungan. 

Memperhatikan system perekonomian pasar tersebut dapat dimengerti bahwa system tersebut dapat berlangsung secara terus menerus karena kedua belah pihak, yaitu rumah tngga sebagai konsumen dan perusahaan sebagai produsen mendapatkan keuntungan. Dengan system tersebut Nampak ada kerja sama yang saling menguntungkan. 




Sumber :

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS